Rabu, 18 April 2012

Analisis Hubungan Keterkaitan Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia dengan Kesehatan dan Pendididkan

STATISTIK




Disusun oleh :
Ika
Mundriati
Made Resti Sinta Dewi
Nafi’atul Mu’arifah
Ridwan Sanjaya


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Surakarta
Jurusan Terapi Wicara
2011/2012

Kata Pengantar

Puji syukur atas segala berkat serta karunia Tuhan Yang Maha Esa  yang telah dilimpahkan-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Tugas ini mengulas tentang mata kuliah Statistik yang di dalamnya terdapat hasil diskusi dari seluruh anggota dari kelompok kami.

Tugas ini disusun untuk tugas dari mata kuliah Statistik. Kami menyadari tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, tugas ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Untuk itu kami menyampaikan ucapan terima kasih  kepada:

  1. Ibu Ninik Nurhadiyah, M.OT  selaku dosen mata kuliah Statistik.
  2. Teman-teman satu jurusan khususnya tingkat satu dalam membantu pengumpulan bahan dan materi yang dibutuhkan dalam penyelesaian  tugas.
  3. Teman sejawat dan seperjuangan di kontrakan yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.
  4. Kedua orangtua kami atas dukungan yang telah diberikan dan semangat dan motivasi dari mereka sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
  5. Kepada semua pihak yang telah membantu kami yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Dalam penyusunan tugas ini terdapat banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak yang berhubungan dengan penulisan tugas ini. Sehingga dengan adanya saran dan kritik tersebut dapat dijadikan bahan perbaikan lebih lanjut.

            Akhir kata,  kami berharap semoga tugas ini dapat berguna bagi para pembaca, khususnya kami dan Politeknik Kesehatan Surakarta.



Surakarta, Pebruari 2011





                                                                                                                                   Penulis

 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................... iv
BAB       I     PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..................................................................... 1
B.      Rumusan Masalah............................................................... 2
C.     Tujuan Penelitian.................................................................. 2
BAB       II   PEMBAHASAN
A.    Sejarah Bahasa
1.      Pengertian bahasa………………………………..3
2.      Asal usul bahasa…………………………………4
3.      Asal usul bahasa didunia………………………...5
4.      Asal usul bahasa Indonesia……………………...6
B.     Teori Belajar Bahasa
1.      Teori Behaviorisme…………………………….10
2.      Teori  Nativisme……………………………….12
3.      Teori  Kognitivisme……………………………14  
4.      Teori  Fungsional………………………………15
5.      Teori  Konstruktivisme………………………...15
6.      Teori Humanistik………………………………17
            BAB       III  PENUTUP
                                 Kesimpulan........................................................................... 19
                                 Saran..................................................................................... 19
            DAFTAR  PUSTAKA
 
BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang Masalah
Masyarakat seakan-akan banyak yang tidak peduli dan bersifat acuh pada diri orang yang memiliki kekurangan pada dalam dirinya. Sikap tidak peduli dan acuh tersebut sebenarnya lambat laun merugikan orang yang berbuat tersebut. Karena pada kondisi tersebut mudah sekali terjadinya penyimpangan kondisi social pada lingkungan yang cenderung acuh dan individualistis tersebut. Hal itu pun sebenarnya telah mengganggu keadaan social masyarakat di sekeliling tempat beradanya orang yang memiliki gangguan tersebut.
Anak berkebutuhan khusus termasuk penyandang cacat merupakan salah satu sumber daya manusia bangsa Indonesia yang kualitasnya harus ditingkatkan agar dapat berperan, tidak hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai subyek pembangunan. Anak penyandang cacat perlu dikenali dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, karena mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus, seperti pelayanan medik, pendidikan khusus maupun latihan-latihan tertentu yang bertujuan untuk mengurangi keterbatasan dan ketergantungan akibat kelainan yang diderita, serta menumbuhkan kemandirian hidup dalam bermasyarakat.
WHO memperkirakan jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar   7-10 % dari total jumlah anak. Menurut data Sussenas tahun 2003, di Indonesia terdapat 679.048 anak usia sekolah berkebutuhan khusus atau 21,42 % dari seluruh jumlah anak berkebutuhan khusus.
Masalah kecacatan pada anak merupakan masalah yang cukup kompleks baik secara kuantitas maupun kualitas, mengingat berbagai jenis kecacatan mempunyai permasalahan tersendiri. Jika masalah anak penyandang cacat ini ditangani secara dini dengan baik dan keterampilan mereka ditingkatkan sesuai minat, maka beban keluarga, masyarakat dan negara dapat dikurangi. Sebaliknya jika tidak diatasi secara benar , maka dampaknya akan memperberat beban keluarga dan negara.
            Oleh karena itu, kami akan membahas dan menganalisi terhadap data-data yang telah ada untuk dilakukaknnya penatalaksanaan yang seharusnya dilakukan dikemudian hari. Tugas ini dilakukan dengan cara mencari sumber yang sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber yang ada untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
           
B.     Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud anak yang mengalami kebutuhan khusus ?
2.      Apa sajakah pengklasifikasian anak yang mengalami kebutuhan khusus?
3.      Berapa jumlah anak yang berkebutuhan khusus di Indonesia ?

C.    Tujuan penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini antara lain:
1.      Diharapkan penulis dapat mengetahui tentang anak yang berkebutuhan khusus .
2.      Diharapkan penulis dapat mengetahui pengklsifikasian tentang anak yang mempunyai kebutuhn khusus.
3.      Di harapkan penulis dapat mengetahui jumlah anak yang mempunyai kebutuhan khusus di Indonesia berdasarkan pengklasifikasiannya.











BAB II
Tinjauan Pustaka

A.    Pengertian
            Menurut heward, anak berkebutuhan khusus  adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar , dan anak yang akibat keadaan tertentu mengalami kekerasan, berada di lembaga permasyarakatan/ rumah tahanan, di jalanan, di daerah terpencil/ bencana/konflik yang memerlukan penanganan secara khusus.
            Anak Penyandang cacat adalah setiap anak yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya yang terdiri dari penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental dan penyandang cacat fisik dan mental.
            Penyandang cacat fisik anak adalah seorang anak yang mempunyai kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak
tubuh, penglihatan, pendengaran, kemampuan bicara/wicara dan penyakit khronis (kusta, TB, degeneratif: diabetes, hipertensi, stroke)
Penyandang cacat mental anak adalah seorang anak yang mempunyai kelainan mental dan atau tingkah laku, yang dapat disebabkan oleh cacat bawaan atau penyakit yang didapat, atau seorang yang mengalami gangguan jiwa yang disebabkan oleh faktor organobiologis maupun fungsional yang mengakibatkan perubahan dalam alam pikiran, alam perasaan dan perbuatan sehingga memiliki masalah sosial dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, mencari nafkah dan dalam kegiatan bermasyarakat.
Sekolah Inklusif  adalah sekolah umum yang melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus dalam satu kesatuan yang sistemik dengan menggunakan kurikulum yang fleksibel disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa.
Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah: Sekolah bagi anak berkebutuhan khusus yaitu salah satu jenis sekolah yang bertanggungjawab melaksanakan pendidikan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Tenaga kesehatan adalah adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.



B.     Pengklasifikasian Anak Berkebutuhan Khusus
            Anak penyandang cacat dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok antara lain: tunanetra, Tunarungu/Tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD), autisme dan tunaganda, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dan memerlukan penanganan dan pelayanan yang berbeda pula. Karakteristik untuk masing-masing jenis kecacatan, dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Tunanetra
Karakteristik anak tunanetra antara lain: mempunyai kemampuan berhitung, menerima informasi dan kosakata hampir menyamai anak normal tetapi mengalami kesulitan dalam hal pemahaman yang berhubungan dengan penglihatan; kesulitan penguasaan keterampilan sosial yang ditandai dengan sikap tubuh tidak menentu, agak kaku, serta antara ucapan dan tindakan kurang sesuai karena tidak dapat mengetahui situasi yang ada di lingkungan sekitarnya. Umumnya mereka menunjukkan kepekaan indera pendengaran dan perabaan yang lebih baik dibandingkan dengan anak normal, serta sering melakukan perilaku stereotip seperti menggosok-gosokkan mata dan meraba-raba sekelilingnya.
2.       Tunarungu/Tunawicara
Anak Tunarungu/Tunawicara mengalami gangguan komunikasi secara verbal karena  kehilangan seluruh atau sebagian  daya pendengarannya, sehingga mereka menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi, oleh karena itu pergaulan dengan orang normal mengalami hambatan. Selain itu mereka  memiliki sifat ego-sentris yang melebihi anak normal, cepat marah dan mudah tersinggung. Kesehatan fisik pada umumnya sama dengan anak normal lainnya.
3.      Tunagrahita
Memiliki prestasi sekolah kurang secara menyeluruh, tingkat kecerdasan (IQ) di bawah 70, memiliki ketergantungan pada orang lain secara berlebihan, kurang tanggap, penampilan fisiknya kurang proporsional, perkembangan bicara terlambat dan bahasa terbatas.
4.      Tunadaksa
Karakterisitik anak tunadaksa adalah: anggota gerak tubuh tidak lengkap, bentuk anggota tubuh dan tulang belakang tidak normal, kemampuan gerak sendi terbatas, ada hambatan dalam melaksanakan aktifitas kehidupan sehari hari.
5.      Tunalaras
Karakteristik anak tunalaras adalah: melakukan tindak kekerasan bukan karena mempertahankan diri, misalnya: pemukulan, penganiayaan dan pencurian, serta sering melakukan pelanggaran berbagai aturan.
6.      Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Karakteristik untuk kelainan ini adalah hiperaktif, tidak bisa istirahat, tidak kenal lelah, perilaku tidak sabaran dan impulsif, tetapi masih punya kemampuan untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab, serta sering menghabiskan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang menarik perhatian mereka.
7.      Autisme
Karakteritik anak autisme adalah: memiliki respon abnormal terhadap stimuli sensori; perkembangan kemampuan kognitif terlambat; tidak mampu mengembangkan sosialisasi yang normal; gangguan dalam berbicara, bahasa dan komunikasi; serta senang meniru atau mengulangi kata-kata orang lain (egolalia).
8.      Tunaganda
Anak tunaganda memiliki ciri dan katakteristik antara lain: memiliki ketunaan lebih dari satu; semakin parah apabila tidak segera mendapatkan bantuan; sulit dievaluasi, cenderung menimbulkan ketunaan baru; memiliki wajah yang khas, pertumbuhan dan perkembangannya lebih lambat dari usia kalendernya; kemampuan orientasi dan mobilitasnya terbatas; cenderung menyendiri; memiliki emosi tidak stabil; perkembangan emosi pada umumnya tidak sesuai dengan usia kalendernya; dan tingkat kecerdasan yang cenderung rendah.

C.    Data Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Sekolah  Luar  Biasa  merupakan  sekolah  khusus yang diperuntukkan bagi  anak penyandang cacat yang dapat dikelompokkan menjadi:
1.       SLB-A:  Sekolah untuk Tunanetra  (Anak yang mengalami hambatan  penglihatan)
2.      SLB-B:  Sekolah  untuk  Tunarunggu  (Anak yang mengalami hambatan  pendengaran)
3.      SLB-C:    Sekolah  untuk  Tunagrahita  (Anak yang mengalami retardasi  mental)
4.      SLB-D:    Sekolah  untuk  Tunadaksa  (Anak yang mengalami cacat tubuh)
5.      SLB-E:  Sekolah untuk Tunalaras ( Anak yang mengalami penyimpangan emosi dan sosial)
6.      SLB-F:   Sekolah khusus untuk Autis
7.      SLB-G:  Sekolah  untuk  Tunaganda  (Anak yang mengalami lebih dari satu hambatan).

1.      Data-data SLB di Indonesia
Berdasarkan data dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian  Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2008 jumlah SLB di Indonesia adalah sebagai berikut :
a.       Sekolah khusus tunanetra (SLB A) : 32 sekolah
b.      Sekolah khusus Tunarungu/Tunawicara (SLB B) : 97 sekolah
c.       Sekolah khusus tunagrahita (SLB C) : 108 sekolah
d.      Sekolah khusus tunadaksa (SLB D) : 10 sekolah
e.       Sekolah khusus tunalaras (SLB E) : 7 sekolah
f.       Sekolah khusus autis  (SLB F) : 20 sekolah
g.      Sekolah khusus tunaganda (SLB G) : 4 sekolah
h.      SLB campuran : 1.036 sekolah

2.             Data Penyandang Kecacatan Berdasarkan Jenis Kecacatan
Belum ada data pasti tentang jumlah anak termasuk anak usia sekolah penyandang cacat yang ada di masyarakat. Data dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009 menunjukkan bahwa ada 70.501 anak penyandang cacat yang sekolah di Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Pertama dan 15.144 anak penyandang cacat di sekolah inklusif.
Data siswa penyandang cacat yang terdaftar di SLB menurut Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2009 adalah sebagai berikut:
No
Jenis Kecacatan
Jumlah
1
SLB Tuna Netra
1.105 orang
2
SLB Tunarungu/Tunawicara
5.610 orang
3
SLB Tunagrahita
4.253 orang
4
SLB Tunadaksa
229 orang
5
SLB Tunalaras
487 orang
6
SLB Autis
638 orang
7
SLB Tunaganda
171 orang
8
SLB Campuran
58.008 orang
Total
70.501 orang

Data anak yang memiliki kecacatan dari usia 0-21 tahun menurut jenis kecacatan dan daerah tempat tinggal, yang telah di publikasikan oleh hasil Susenas tahun 2003 dan 2005 adalah sebagai berikut :
                                                                                                             (Jiwa)
No
Jenis Kecacatan
Perkotaan
Pedesaan
Perkotaan Dan Pedesaan
2000
2003
2000
2003
2000
2003
1
Tuna Netra
21700
28700
22100
50100
43800
78800
2
Tuna Rungu
19600
6600
18200
16900
37800
23500
3
Tuna Wicara
9500
23300
11800
36000
49800
73100
4
Tuna Rungu dan Tuna Wicara
7000
17800
4800
24900
11800
42700
5
Tuna Daksa
53400
55300
61100
101600
114500
156900
6
Tuna Grahita
15600
52900
22800
65100
38400
118100
7
Gangguan Jiwa
5900
1900
10700
24800
16600
26700
Total
132700
186500
151500
319400
312700
519800

BAB III
Metodologi Penelitian
A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa terhadap penyandang cacat yang ada di Indonesia serta keterkaitannya dengan sistim pendidikan. Rancangan data ini dilakukan dengan pendekatan   Kuantitatif   dengan   tujuan   untuk  mengetahui signifikansi dari pengaruh variabel : Hubungan jumlah anak penyandang cacat di Indonesia dengan pendidikan bagi anak cacat di Indonesia, serta pelayanan kesehatan Indonesia.
Data yang di analisis merupakan data primer yang diperoleh dari data WHO, Sussenas tahun 2003, Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian  Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2008, Data dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009, Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2009, dan Susenas tahun 2003 dan 2005.
B.     Populasi, Sampel, Besar Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
a.    Populasi Sampel
Populasi pada penelitian ini meliputi seluruh anak yang mengalami berbagai kecacatan di Indonesia. Baik dari Indonesia bagian barat, tengah dan timur. Data yang diambil merupakan data dari tahun 2003 sampai 2009. Sedangkan unit analisisnya adalah Anak yang mengalami kecacatan.
b.    Besar Sampel
Besar sampel yang diambil merupakan data dari seluruh anak yang mengalami kecacatan di Indonesia. Data yang diambil merupakan data dari tahun 2003 sampai 2009. Dengan jumlah (N) 70.501 orang.
c.    Teknik pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan metode Sensus. Data sensus merupakan sebuah metode pengambilan data secara menyeluruh dari jumlah variable yang ada.
d.      Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang di ambil adalah anak yang mengalami kecacatan Tuna Rungu, Tuna Netra, Tuna Wicara, Tuna Rungu dan Tuna Wicara, Tuna Daksa, Tuna Grahita, Gangguan Jiwa, serta Tuna Ganda.
e.       Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan dari dokumen yang ada .
f.       Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini diambil dari pemeriksaan dokumentasi dari data sensus yang telah dilakukan oleh banyak sumber diantaranya : WHO, Sussenas tahun 2003, Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian  Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2008, Data dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2009, Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2009, dan Susenas tahun 2003 dan 2005.
g.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara mencari dari berbagai sumber dokumen yang ada di berbagai jurnal.
h.      Teknik Analisis
Di dalam penelitian ini menggunakan dua Teknik Analisis, yaitu analisis deskriftive dan kuantitatif.
1.      Analisis deskriftive
Dengan menggunakan metode pemeriksaan data, diharapkan dapat memperoleh gambaran : Apakah kualitas kesehatan anak Indonesia sudah baik atau belum, serta mengenai kaitan kinerja pemerintah dengan pengadaan Sekolah Khusus bagi anak yang mengalami kecacatan. Apakah pemerintah perlu meningkatkan kinerjanya atau tidak dalam mengatasi problem mengenai anak-anak yang mengalami kecacatan dengan pendidikannya serta kesehatan mereka dan rakyat Indonesia.
2.      Analisis kuantitatif dan kualitatif
Dengan cara pengumpulan data dengan cara sensus, diharapkan dapat memperoleh keterkaitan antara jumlah penderita kecacatan di Indonesia dengan pendidikan yang seharusnya mereka dapat. Kemudian menilai apakah pendidikan yang telah ada sesuai standar yang seharusnya dimiliki oleh sekolah khusus yang menangani anak-anak yang mengalami kecacatan. Serta, untuk menilai apakah kinerja pihak-pihak yang berlingkup dalam kesehatan sudah memenuhi jumlah yang di butuhkan di Indonesia. 


BAB IV
Hasil dan Pembahasan
A.    Analisa Situasi Penyandang Cacat di Indonesia
Masih banyaknya anak yang berkebutuhan khusus yang belum diberdayakan merupakan alasan mengapa seharusnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus masih sngatlah perlu digalaka lagi. Anak-anak yang berkebutuhan khusus di Indonesia merupakan aset Negara yang sangat perlu di gali lagi potensi dalam dirinya. Sehingga bisa untuk memajukan Indonesia kea rah yang lebih baik.
Peran serta Orangtua, Tenaga Kesehatan, Para Guru, Terapis, dan Masyarakat haruslah siap dalam membangun mental mereka sehingga ada semangat yang lebih menyala pada anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Kegiatan-kegiatan seperti Promosi dan sekaligus penyuluhan haruslah serin diadakan oleh tenaga kesehatan untuk memberikan penjelasan tentang betapa pentingnya menjalin hubungan antara lingkungan yang sehat pada setiap individu.
Para Terapis harus lebih masuk dalam memberikan penyuluhan tentang keahlian yang dimiliki guna menunjang keberhasilan pendidikan serta kesehatan anak yang berkebutuhan khusus. Penyuluhan yang seharusnya bisa lebih masuk misalnya diadakan pengobatan gratis yang secara langsung memberikan berbagai penyuluhan dan pengetahuan bagi para orangtua, masyarakt dan tenaga kesehatan lainnya yang belum mengetahui tentang kegunaan dari adanya terapis tersebut.
Lingkungan masyarakat pun seharusnya harus melakukan pendekatan pada setiap event-event yang diadakan oleh tenaga kesehatan guna menjalin kerjasama yang baik dalam mencapai kesehatan yang telah dicanagkan pemerintah dalam program kerja mereka sebelumnya.
Institusi kesehatan yang sudah ada di Indonesia seharusnya lebih diadakan lagi di daerah-daerah. Terutama daerah pelosok Indonesia. Guna mencapai pemberdayaan manusia yang baik. Pengadaan sekolah khusus, sekolah inklusi, sekolah segresi seperti SLB bagi, Tuna Daksa, Tuna Laras, Tuna Grahita, Tuna Netra, Tuna Rungu, Tuna Wicara, Autisme, Dan Tuna Campuran perlu lebih diperbanyak di Negeri ini.

BAB V
Penutup
A.    Kesimpulan
Anak yang berkebutuhan khusus merupakan sebuah momok bagi sebagian kalangan yang memang memandangnya sebagai pembuat masalah dengan berbagai alasan. Sebenarnya anak yang memiliki kebutuhan khusus merupakan asset Negara dan haruslah di kembangkan potensi yang ada dalam dirinya .
Anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan bantuan dari berbagai aspek, baik dari segi moril dan materil untuk menunjang kehidupannya kedepan. Anak tersebut kadang kala memiliki kelebihan yang tidak kita duga-duga.
Sarana dan prasarana yang ada sekarang belumlah memadai untuk membentuk karakter anak tersebut. Namun, itu sudahlah cukup untuk tolak belakang demi kemajuan yang ada mendatang. Pemerintah telah berusaha secara keras dengan berbagai cara untuk membentuk karakter dari anak yang memiliki kebutuhan khusus tersebut.
Anak yang berkebutuhan khusus memanglah membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit, peran serta pemerintah membantu sangatlah ditunggu-tunggu oleh para orang tua yang anaknya membutuhkan pendidikan seperti sekolah inklusi, terpadu, khusus , segresi dan lain-lian.
Dari kesemua pendidikan itu, memanglah memakan dana yang tidaklah sedikit, oleh karena itu orang tua justru membiarkan dan merasa tidak berdaya dalam menghadapi anak mereka.
Peran serta pemerintah memang merupakan titik kunci awal dalam mempermudah masyarakat dalam menerima kesehatan yang baik dan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka.
B.     Saran
Pelayanan  kesehatan  bagi  anak  di   SLB,  perlu  mendapat perhatian dan penanganan secara ksi husus  dari berbagai pihak untuk  mengurangi  dan  mencegah  derajat  kecacatan  yang lebih  parah,  sehingga diharapkan mereka   dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari secara maksimal.
Diharapkan pemerintah lebih meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan yag ada di Indonesia, membuat institusi untuk mencetak tenaga kesehatan yang lebih bermutu kedepannya. Membuat lebih banyak sekolah-sekolah khusus, sekolah inklusi dan sekolah segresi bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Menjalin komunikasi dengan lingkungan dan mengadakan berbagai macam penyuluhan untuk memberikan penjelasan pada orangtua dan masyarakat tentang anak Berkebutuhan Khusus. Semoga pemerintah, masyarakat, para guru, para tenaga kesehatan, dan semua pihak yang berada di semua lingkungan bahu membahu untuk menciptakan kehidupan yang benar-benar selaras dan sejalan dengan kebenaran. Dan terciptanya masyarakat yang berpotensi segera bisa terwujud kedepannya, khususnya bagi drinya sendiri dan demi Indonesia. Semoga semua rencana dan niat baik kita dapatlah terwujud dan segera terealisasi. Amin            


Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Buku Kumpulan Materi Tehnis Medis
Anak Berkelainan/ALB, Jakarta, 1994
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Untuk Tenaga Kesehatan:
Usaha Kesehatan Sekolah di Tingkat Sekolah Lanjutan, Jakarta, 2001.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Petunjuk Teknis  Penjaringan Kesehatan
Anak Sekolah, Jakarta, 2008.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor: 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Jakarta, 1992.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunanetra (SLB-A), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunarungu/Tunawicara (SLB-B), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunagrahita (SLB-C), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunadaksa (SLB-D), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunalaras (SLB-E), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Untuk Autistik (SLB-F), Jakarta, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan
Manajemen Sekolah Khusus Tunaganda (SLB-G), Jakarta, 2008.
Phyllis A. Balch CNC, Prescription for Nutritional Healing, Avery; a member of 
PENGUIN GROUP (USA), INC., New York, 2000.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pemeriksaan Kemampuan
Fungsional Penyandang Cacat untuk Sekolah dan Melamar Kerja, Jakarta, 2009.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar